Jumat, 27 Mei 2011

ISTILAH-ISTILAH DALAM PSIKOLOGI AGAMA


ISTILAH-ISTILAH DALAM PSIKOLOGI AGAMA

  1.  Awareness: kesadaran.
  2. Act regression: kemunduran tingkah laku.
  3. Adaptive act: perbuatan adaptif, perbuatan dapat menyesuaikan diri.
  4. Adaptive behavior: tingkah laku adaptif, yang dapat menyesuaikan diri.
  5. Ascendance, ascendant behavior: tingkah laku berkuasa, prilaku yang menguasai.
  6. Ascendance-submission: kekuasaan, kepatuhan.
  7. Asosiasi bebas (free-association) : metode “psikoanalisis” yang didalamnya seseorang secara terbuka melaporkan kepada terapis segala sesuatu yang memasuki pikiran sadarnya sewaktu hal itu muncul. Prosesnya sering berawal dengan pengajuan kata atau sejumlah kata secara acak oleh terapis. Bagi terapis, tujuannya adalah mendeteksi pengaruh “bawah sadar” yang mengendalikan asosiasi itu
  8. Authoritarian personality: kepribadian otoriter.
  9. Bawah-sadar (unconscious): Aspek psiki yang mengandung segala sesuatu yang tidak mudah diakses ke bidang kesadaran terdekat.
  10. Behavior: tingkah laku, kelakuan, perilaku, tindak-tanduk, perangai.
  11. Behavioral: berhubungan dengan kelakuan/perangai.
  12. Belief dilemma: dilema keyakinan, kepercayaan.
  13. Belief vame matriy: acuan atau matres nilai-nilai keyakinan.
  14. Child centered: berpusat pada pribadi anak.
  15. Child development: perkembangan anak.
  16. Collective mind: jiwa kolektif, pikiran (akal, ingatan) kolektif.
  17. Conventional stage of moral development: tingkat, taraf konvensioanal   perkembangan moral.
  18. Denial : Memainkan peran defensif, sama seperti represi. orang menyangkal untuk melihat atau menerima masalah atau aspek hidup yang menyulitkan. Denial beroperasi pada taraf preconscius atau conscious.
  19. Delusi (delusion) : keyakinan sesat yang tidak akan dilepas walaupun bukti kesesatannya dihadirkan.
  20. Development: perkembangan.
  21. Development age: usia perkembangan.
  22. Developmental stage: tingkat atau taraf perkembangan.
  23. Deviate: menyimpang.
  24. Displacement : salah satu cara menghadapi anxietas adalah dengan memindahkannya dari objek yang mengancam kepada objek “yang lebih aman”. misalnya orang penakut yang tidak kuasa melawan atasannya melampiaskan hostilitasnya di rumah kepada anak-anaknya.
  25. Deviation: deviasi, penyimpangan.
  26. Disposition: disposisi, watak, pembagian, penempatan, pengaturan, kecondongan.
  27. Ego anyiety: kecemasan ego.
  28. Egocentric: egosentris.
  29. Ego defense: pertahanan/pembelaan ego.
  30. Emotional: emosional.
  31. Excitatory tendency: kecenderungan pada kegairahan.
  32. Excitement: kegairahan, kegembiraan, perangsangan.
  33. Exhibitionistic attitude: sikap ekshibisionistis.
  34. Exploratory behavior: tingkah laku yang suka menyelidiki, menjelajah.
  35. Expressive: ekspresif, bersifat menyatakan perasaan.
  36. Faculty psychology: psikologi kemampuan/kecakapan.
  37. Fath healing: pengobatan dengan menggunakan kebatinan.
  38. Acquired characteristics: karakteristik yang diperoleh.
  39. Acquisitiveness:  kekerasan atau kegigihan untuk memiliki, ketamakan,   keserakahan.
  40. Act: perbuatan, tindakan, akta, kegiatan.
  41. Act psychology: psikologi perbuatan, psikologi akta.
  42. Anima : kata latin untuk “jiwa”, yang digunakan Jung untuk menunjukkan lapisan “bawah-sadar” yang lebih daripada “bayang-bayang”nya.
  43. Authoritarian personality: kepribadian otoriter.
  44. Behavior: tingkah laku, kelakuan, perilaku, tindak-tanduk, perangai.
  45. Behavioral: berhubungan dengan kelakuan/perangai.
  46. Belief dilemma: dilema keyakinan, kepercayaan.
  47. Belief vame matriy: acuan atau matres nilai-nilai keyakinan.
  48. Child centered: berpusat pada pribadi anak.
  49. Child development: perkembangan anak.
  50. Collective mind: jiwa kolektif, pikiran (akal, ingatan) kolektif.
  51. Conventional stage of moral development: tingkat, taraf konvensioanal   perkembangan moral.
  52. Development: perkembangan.
  53. Development age: usia perkembangan.
  54. Developmental stage: tingkat atau taraf perkembangan.
  55. Deviate: menyimpang.
  56. Id psikoanalisis: bagian jiwa.
  57. Impliet behavior: tingkah laku implisit
  58. Deviation: deviasi, penyimpangan.
  59. Disposition: disposisi, watak, pembagian, penempatan, pengaturan, kecondongan.
  60. Ego anyiety: kecemasan ego.
  61. Egocentric: egosentris.
  62. Ego defense: pertahanan/pembelaan ego.
  63. Emotional: emosional.
  64. Excitatory tendency: kecenderungan pada kegairahan.
  65. Excitement: kegairahan, kegembiraan, perangsangan.
  66. Acquired characteristics: karakteristik yang diperoleh
  67. Exhibitionistic attitude: sikap ekshibisionistis.
  68. Primary Personality: kepribadian primer.
  69. Problem behavior: tingkah laku bermasalah.
  70. Psyche (jiwa) rage: kemarahan.
  71. Regulatory behavior: tingkah laku yang mengatur.
  72. Roughness: kekasaran, kesesatan.
  73. Sanguine: riang penuh
  74. Grouf mind: jiwa kelompok.
  75. Growth: pertumbuhan, perkembangan.
  76. Goal-directed behavior: tingkah laku terarah pada sasaran.
  77. Group norm: norma kelompok
  78. Adaptive act: perbuatan adaptif, perbuatan dapat menyesuaikan diri.
  79. Adaptive behavior: tingkah laku adaptif, yang dapat menyesuaikan diri.
  80. Ascendance, ascendant behavior: tingkah laku berkuasa, prilaku yang menguasai.
  81. Ascendance-submission: kekuasaan, kepatuhan.
  82. Exploratory behavior: tingkah laku yang suka menyelidiki, menjelajah.
  83. Expressive: ekspresif, bersifat menyatakan perasaan.
  84. Faculty psychology: psikologi kemampuan/kecakapan.
  85. Fath healing: pengobatan dengan menggunakan kebatinan.
  86. Frustation: frustasi.
  87. Acquisitiveness: kekerasan atau kegigihan untuk memiliki, ketamakan, keserakahan.
  88. Act: perbuatan, tindakan, akta, kegiatan.
  89. Act psychology: psikologi perbuatan, psikologi akta.
  90. Awareness: kesadaran.
  91. Act regression: kemunduran tingkah laku.
  92. Guilt: perasaan bersalah.
  93. Habit: kebiasaan.
  94. Hate: rasa benci.
  95. Higher mental processes: proses mental lebih tinggi.
  96. Hope: harapan, asa.
  97. Human nature: sifat manusia.
  98. Magic: magis.
  99. Mania: tingkah laku bengis.
  100.  Hunger drive: dorongan lapar.
  101. Ictal emotions: emosi iktal, luapan emosi.
  102. Interbahavioral psychology: psikologi interprika.
  103. Jactitation: amat gelisah.
  104. Jealousy: iri hati.
  105.  Lifetime personality: kepribadian tempo hidup.
  106.  Maintenance: tingkat kemandirian, kemampuan mempertahankan diri.
  107. Margin of attention or conciousness: batas perhatian, kesadaran.
  108. Mental illness: sakit jiwa, penyakit mental.
  109.  Mind-blindness: kebutuhan jiwa.
  110. Social behavior: tingkah laku sosial.
  111. Social control: kontrol sosial.
  112.  Mind-body problem: masalah jiwa badan.
  113. Mood: keadaan jiwa, suasana hati.
  114. Moral: menyinggung akhlak.
  115. Self consistency: kemantapan diri.
  116. Social attitude: sikap sosial.
  117. Social being: makhluk sosial
  118. Non compos mentis: tidak memiliki kemampuan jiwa.
  119. Non consious: tidak sadar.
  120. Over behavior: tingkah laku yang bisa diamati.
  121. Pain: perasaan sakit, rasa sedih.
  122. Development: perkembangan.
  123. Development age: usia perkembangan.
  124. Developmental stage: tingkat atau taraf perkembangan.
  125. Deviate: menyimpang.
  126. Deviation: deviasi, penyimpangan.
127.    Disposition: disposisi, watak, pembagian, penempatan, pengaturan, kecondongan.
  1. Ego anyiety: kecemasan ego.
  2. Egocentric: egosentris.
  3. Ego defense: pertahanan/pembelaan ego.
  4. Emotional: emosional.
  5. Acquired characteristics: karakteristik yang diperoleh. 
  6.    Acquisitiveness: kekerasan atau kegigihan untuk memiliki, ketamakan, keserakahan.
  1. Act: perbuatan, tindakan, akta, kegiatan.
  2. Act psychology: psikologi perbuatan, psikologi akta.
136.    Anima : kata latin untuk “jiwa”, yang digunakan Jung untuk menunjukkan lapisan “bawah-sadar” yang lebih daripada “bayang-bayang”nya.
  1. Awareness: kesadaran.
  2. Act regression: kemunduran tingkah laku.
  3. Adaptive act: perbuatan adaptif, perbuatan dapat menyesuaikan diri.
  4. Adaptive behavior: tingkah laku adaptif, yang dapat menyesuaikan diri.
  5. Ascendance, ascendant behavior: tingkah laku berkuasa, prilaku yang menguasai.
  6. Ascendance-submission: kekuasaan, kepatuhan. 
  7.   Asosiasi bebas (free-association) : metode “psikoanalisis” yang didalamnya seseorang secara terbuka melaporkan kepada terapis segala sesuatu yang memasuki pikiran sadarnya sewaktu hal itu muncul. Prosesnya sering berawal dengan pengajuan kata atau sejumlah kata secara acak oleh terapis. Bagi terapis, tujuannya adalah mendeteksi pengaruh “bawah sadar” yang mengendalikan asosiasi itu
  1. Authoritarian personality: kepribadian otoriter.
  2. Bawah-sadar (unconscious): Aspek psiki yang mengandung segala sesuatu yang tidak mudah diakses ke bidang kesadaran terdekat.
  3. Behavior: tingkah laku, kelakuan, perilaku, tindak-tanduk, perangai.
  4. Behavioral: berhubungan dengan kelakuan/perangai.
  5. Belief dilemma: dilema keyakinan, kepercayaan.
  6. Belief vame matriy: acuan atau matres nilai-nilai keyakinan.
  7. Child centered: berpusat pada pribadi anak.
  8. Child development: perkembangan anak.
  9. Collective mind: jiwa kolektif, pikiran (akal, ingatan) kolektif.  
  10.   Conventional stage of moral development: tingkat, taraf konvensioanal   perkembangan moral. 
  11. Denial : Memainkan peran defensif, sama seperti represi. orang menyangkal untuk melihat atau menerima masalah atau aspek hidup yang menyulitkan. Denial beroperasi pada taraf preconscius atau conscious.
  1. Development: perkembangan.
  2. Development age: usia perkembangan.
  3. Developmental stage: tingkat atau taraf perkembangan.
  4. Deviate: menyimpang. 
  5.  Displacement : salah satu cara menghadapi anxietas adalah dengan memindahkannya dari objek yang mengancam kepada objek “yang lebih aman”. misalnya orang penakut yang tidak

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar